|4| MENELUSURI KEBENARAN YANG ADA


|4| MENELUSURI KEBENARAN YANG ADA

Keesokan paginya, Reyza terbangun dengan perasaan gelisah. Mimpi buruk menghantuinya semalaman. Ia bermimpi melihat dirinya sendiri berdiri di depan cermin, tetapi bayangan yang terlihat bukan dirinya yang sekarang, melainkan sosok yang lebih tua, dengan tatapan kosong dan darah menetes dari tangannya. Di belakangnya, samar-samar ia melihat siluet Leana yang terbaring tak bernyawa.

Reyza terengah-engah saat bangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia duduk di tepi tempat tidur dan memegang kepalanya. “Apa yang sedang terjadi padaku?” gumamnya pelan.

Ia menatap tasnya yang masih menyimpan surat kabar misterius itu. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkannya lagi dan membaca ulang berita yang membuatnya resah. “Tidak, ini tidak mungkin,” bisiknya. Namun, semakin ia menyangkal, semakin pikirannya dipenuhi oleh ketakutan.

Reyza tahu bahwa ia tidak bisa terus membiarkan hal ini menguasai dirinya. Ia harus mencari jawaban. Satu-satunya cara adalah dengan mencari tahu dari mana asal surat kabar ini dan apakah ada orang lain yang juga mendapatkannya.

Tanpa pikir panjang, ia menghubungi sahabatnya, Fino, seorang mahasiswa jurnalisme yang sering mengutak-atik informasi dan menyelidiki hal-hal aneh.

“Bro, aku butuh bantuanmu,” ucap Reyza setelah Fino mengangkat teleponnya.

“Ada apa, bro? Suaramu kok kayak orang habis dikejar hantu,” balas Fino dengan nada bercanda.

“Aku nemu surat kabar aneh. Beritanya dari masa depan dan isinya soal aku dan Leana. Aku butuh bantuan kamu buat selidiki ini.”

Fino terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Tunggu, maksudmu berita dari masa depan? Lo yakin ini bukan hoax atau prank?”

“Aku juga berpikir begitu awalnya. Tapi, Fin, isinya terlalu spesifik. Nama lengkap aku dan Leana ada di situ, fotonya juga mirip dengan aku dan Leana cuman terlihat lebih tua. Ini bukan kebetulan,” ucap Reyza serius.

“Oke, kalau begitu bawa surat kabarnya ke kampus. Aku bisa cek apakah ada sesuatu yang aneh dengan kertas atau tintanya. Mungkin kita bisa tahu ini dari mana asalnya.”

“Baik, aku ke sana sekarang.”

Reyza segera bersiap-siap dan berangkat ke kampus, membawa surat kabar itu dalam tasnya. Sepanjang perjalanan, pikirannya masih dipenuhi berbagai kemungkinan. Bagaimana jika ini memang nyata? Bagaimana jika masa depan itu benar-benar terjadi? Dan yang paling penting, bisakah ia mengubahnya?

Setibanya di kampus, Reyza langsung menemui Fino di ruang jurnalistik. Fino menatapnya dengan penuh penasaran ketika ia mengeluarkan surat kabar itu dan meletakkannya di atas meja.

Fino mengambil surat kabar itu dan mulai memeriksanya. “Hmm… dari segi cetakan, ini tampak seperti surat kabar sungguhan. Tapi aneh, kertasnya terasa berbeda. Agak lebih tebal dan lebih halus dibanding surat kabar biasa.”

Fino mencoba menuangkan sedikit air di surat kabar itu. “Tinta cetaknya juga unik. Biasanya tinta surat kabar gampang luntur kalau kena air atau tangan basah. Ini tidak. Seperti tinta khusus.”

Reyza mengamati ekspresi Fino yang mulai serius. “Jadi menurutmu ini bukan surat kabar biasa?”

“Gue nggak tahu pasti, tapi ini jelas bukan sesuatu yang umum,” jawab Fino. “Coba gue foto dan cari tahu apakah ada referensi serupa di internet.”

Reyza mengangguk, membiarkan Fino mengambil gambar surat kabar itu dan melakukan pencarian. Sementara Fino sibuk dengan laptopnya, Reyza duduk dengan gelisah, memainkan jemarinya di atas meja.

Setelah beberapa menit, Fino mengernyitkan dahi. “Ini aneh, bro. Dari hasil pencarian, nggak ada satu pun surat kabar yang menggunakan tinta dan kertas seperti ini. Bahkan nama penerbitnya nggak ada di daftar surat kabar yang pernah ada.”

Reyza merasa dadanya semakin sesak. “Jadi ini benar-benar… sesuatu yang tidak wajar?”

Fino menghela napas. “Gue nggak mau bikin lo tambah panik, tapi kemungkinan besar ini bukan surat kabar biasa. Kalau benar ini dari masa depan… kita harus cari cara buat mencegah itu terjadi.”

Reyza menelan ludah. “Kalau memang begitu… maka aku harus mencari tahu siapa yang mengirimkan surat kabar ini ke rumahku.”

0

SAVE  •   •  REPORT


0 Comments

Please LOGIN to comment