|3| KECEMASAN YANG TERPENDAM
Setelah selesai makan, Reyza dan Leana memutuskan untuk pergi ke tempat les bela diri yang akhirnya mereka temukan tidak jauh dari kampus. Saat mereka memasuki tempat itu, suasana di dalam ruangan terlihat cukup sederhana, namun terorganisir dengan baik. Ada beberapa orang yang sedang berlatih, dan instruktur yang terlihat cukup berpengalaman.
“Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pria yang tampaknya adalah instruktur di sana, mendekati mereka.
“Selamat sore, kami ingin mendaftar untuk kelas bela diri. Ini untuk pacarku,” jawab Reyza sambil menunjuk ke Leana.
Instruktur itu tersenyum dan mengangguk. “Tentu, kami punya beberapa jenis bela diri yang bisa dipilih. Ada karate, taekwondo, judo, dan lain-lain. Kamu mau belajar yang mana?”
Leana menatap Reyza, kemudian dengan ragu berkata, “Mungkin taekwondo. Aku suka yang lebih cepat gerakannya.”
“Baik, kalau begitu. Kita coba kelas pemula dulu. Silakan ikut ke ruang ganti dan ganti pakaian olahraga,” ucap instruktur sambil memimpin mereka menuju ruang ganti.
Leana pun berganti pakaian dan bergabung dengan kelas. Di awal sesi, Leana terlihat sedikit canggung dan tidak begitu percaya diri, tetapi Reyza terus memberikan semangat padanya. Melihat Leana mencoba belajar dan berusaha keras membuat Reyza merasa sedikit lega. Setidaknya, ini adalah langkah yang baik untuk melindungi dirinya.
Selama Leana latihan, pikiran Reyza kembali teralihkan ke surat kabar yang ia temukan pagi itu. Setiap kali ia melirik Leana, ia teringat dengan jelas bagaimana Leana tewas dalam berita itu, dibunuh oleh seseorang yang sangat ia kenal. Benarkah ia akan melakukan itu? Pikiran ini terus mengganggu, meskipun ia mencoba untuk tetap tenang.
Leana menghampiri Reyza setelah sesi latihan selesai. “Kamu kenapa? Sepertinya nggak fokus banget,” ucap Leana dengan cemas.
Reyza tersenyum paksa, berusaha menutupi kekhawatirannya. “Aku hanya… agak capek saja, Lea.”
Leana memeluknya sebentar, menenangkan Reyza. “Ayo, jangan terlalu banyak mikir. Kalau kamu terus-terusan khawatir, malah bisa sakit. Kamu harus jaga kesehatan juga, jangan cuma mikirin aku terus.”
Reyza mengangguk pelan, namun di dalam hatinya, ketakutan itu masih ada. Bagaimana kalau prediksi yang ada dalam surat kabar itu benar? Apa yang akan terjadi jika di masa depan dirinya berubah dan menyakiti orang yang sayang padanya?
Setelah latihan selesai, mereka kembali ke rumah. Sepanjang jalan, suasana terasa canggung. Reyza tidak bisa berhenti berpikir tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Sementara itu, Leana tampak ceria, tak menyadari kekhawatiran besar yang melanda Reyza.
Sesampainya di rumah, Reyza duduk di meja makan dengan surat kabar itu di hadapannya. Ia memeriksa setiap kata dengan seksama, berharap menemukan sesuatu yang bisa membuktikan bahwa itu semua hanyalah kebohongan. Namun semakin ia membaca, semakin kuat rasa takutnya.
"Kenapa aku bisa terjebak dalam situasi ini?" pikir Reyza, merasa bingung. "Apakah benar aku yang akan melakukan hal itu? Tidak… aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa Leana."
Dengan perasaan yang semakin tertekan, Reyza menyimpan surat kabar itu lagi di dalam tas. Mungkin ia perlu mencari cara untuk mengungkap kebenaran dan memastikan bahwa masa depan yang ada dalam berita itu tidak akan terjadi.
|4| MENELUSURI KEBENARAN YANG ADA